MAKALAH
‘’Ajaran Tasawuf dan Pengertian Sejarah Munculnya’’
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah
Akhlak dan Tasawuf
Disusun oleh: kelompok 5
SEMESTER I-A
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)AN NADWAH KUALA TUNGKAL 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur
alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini
bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih
juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan
ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Kami berharap
semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari
itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Kuala Tungkal 30 Oktober 2020
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...............................................................................................4
B. Masalah atau Topik
Pembahasan..................................................................5
C. Tujuan Penulisan
Makalah............................................................................5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Tasawuf........................................................................................6
B. Sejarah Munculnya Tasawuf.........................................................................7
C. Ajaran Tasawuf.............................................................................................8
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan....................................................................................................11
B.
Saran.............................................................................................................
11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia sebagaimana disebutkan Ibnu Khaldun memiliki pancaindra (anggota
tubuh), akal pikiran dan hati sanubari. Ketiga potensi ini harus bersih, sehat,
berdaya guna dan dapat bekerja sama secara harmonis. Tasawuf berpotensi dalam
penyucian hati sanubari manusia, sebagaimana tasawuf adalah salah satu cabang
ilmu islam yang mennekankan dimensi atau
aspek spiritual dalam islam. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih
menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya.
Orang yang ahli tasawuf disebut dengan seorang sufi. Seorang sufi
menekankan aspek rohaninya dari pada aspek jasmaninya.Seorang sufi selalu
berusaha untuk dekat dengan Tuhan. Dan untuk mencapai itu, terdapat
tingkatannya yaitu tobat, zuhud, sabar, shaleh, tawakal, kerelaan (ridho), cinta
dan ma’rifat.
Manusia diciptakan sebagai makhluk yang unik. Dia tercipta dari badan jasmaniah
dan aspek rohaniah. Badan jasmaniah terdiri dari materi dan kecenderungan
bersifat material pula. Dari sisi ini, biologis manusia sangat bergantung pada
hal-hal material. Ia membutuhkan pangan, sandang dan papan (kebutuhan dharuriyyah atau primer), dan bahkan
kebutuhan lain yang sifatnya tahsiniyyah atau
sekunder. Sedangkan jiwa manusia berasal dari roh yang suci dengan
kecenderungan bersifat ruhaniyyah pula. Dari sisi ini, manusia
sangat bergantung pada hal-hal yang bersifat spiritual, dia membutuhkan
ketenangan, ketenteraman, ketergantungan pada Zat Yang Maha Mutlak, bahkan
kebersatuan dengan-Nya. Keunikan manusia ini, juga terletak pada kemapuannnya
dalam merenungkan dan memikirkan tentang alam semesta (cosmos), Tuhan (theos),
dan bahkan dia dapat mempersoalkan dirinya sendiri, siapa, bagaimana, untuk
apa, dari mana, mau kemana ujungnya kehidupan itu.
Dari salah satu aspek persoalan perenungan dan
pemikiran manusia tentang dirinya adalah apa dan bagaimana hakikat manusia itu?
Apakah hakikat manusia itu terletak pada kehidupannya yang jasmaniah? Atau pada
kehidupan rohaniah? Atau dalam keterkaitan keduanya? Oleh karena itu tasawuf
hadir dan berkembang menjadi wacana kajian akademik yang senantiasa aktual
secara kontekstual dalam setiap kajian pemikiran islam. Tasawuf juga secara
universal menempati posisi substansi dalam kehidupan manusia
B.
Rumusan masalah
1.
Apa pengertian tasawuf ?
2.
Bagaimana sejarah munculnya tasawuf ?
3.
Apa saja ajaran tasawuf ?
C.
Tujuan
Adapun tujuan
pembuatan makalah ini sebagai berikut ;
1.
Untuk mengetahui pengertian tasawuf
2.
Untuk mengetahui sejarah munculnya tasawuf
3.
Untuk mengetahui ajaran tasawuf.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan
shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain
mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffahyangberarti serambi
Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin
dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin
namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan
berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata
sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum
sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat
dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang
menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada
di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauanaspeklahiriyah dari shufi.
Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan
menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari
kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai
orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkanpada
aspek bathiniyah.
Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan
untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari
benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu
adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan
dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan
Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.
Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada
dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan
tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin
kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai
pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.
Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi
berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar
Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat,
zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah,
al-ma’rifat dan kerelaan hati.
B. Sejarah Munculnya Tasawuf
Sejarah pertumbuhan dan
perkembangan tasawuf sesungguhnya sama saja dengan pertumbuhan dan perkembangan
Islam itu sendiri. Mengingat keberadaan tasawuf adalah sama dengan keberadaan
agama Islam. Pada hakikatnya agama islam itu ajarannya hampir bisa dikaitkan
bercorak tasawuf.
Kehidupan tasawuf mulai
tumbuh dan berkembang sejak zaman nabi Muhammad SAW., sebab misi kerasulannya
meliputi ajaran-ajaran yang berkaitan dengan keyakinan/keimanan (aqidah),
ibadah dan akhlak. Bahkan sebelum beliau diangkat secara resmi oleh Allah SWT.
Sebagai rasul-Nya, kehidupan beliau sudah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku
kehidupan shufi, yang bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari beliau yang
sangat sederhana, disamping menghabiskan waktunya dalam beribadat dan
bertaqarrub pada tuhannya.
Akhlak sebagai bagian
ajaran Rasulullah SAW., ditanamkan kepada seluruh sahabat beliau melalui
pengajaran dan pembinaan yang disertai
dengan contoh dari beliau. Pengajaran dan pembinaan dilalukan melalui
internalisasi nilai-nilai dan ajaran al-Qur’an serta al-Hadits.
Dari ayat-ayat al-Qur’an
itulah, Rasulullah SAW. mengajarkan tasawuf kepada umatnya. Di penjelasan
ayat-ayat al-Qur’an itulah beliau menuntun akhlak para sahabatnya baik dengan
perkataan maupun perbuatan beliau. Penanaman akhlak pada masa Rasulullah SAW.
meliputi berbagai dimensi kehidupan yang lebih memfokuskan kepada keteguhan dan
kebasaran umat islam untuk menghadapi tekanan dan himpitan oleh kaum kafir
Quraisy.Pada saat Rasulullah SAW. berada di Madinah, pembinaan akhlak lebih
ditekankan pada aspek kemasyarakatan.
Pembinaan masa ini lebih
mengarah pada pola interaksi umat islam kepada sesama muslim dan kepada kaum
non muslim (Yahudi dan Nasrani).Ajaran tasawuf pada masa ini meliputi kasih
sayang, saling menghargai dan menghormati, menolong, berbuat baik kepada orang
tua, solidaritas antar sesama dan lain-lain. Ajaran-ajaran inilah yang
dilandasi atas cinta kasih antar mereka sehingga tercipta persaudaraan sesama
umat Islam.
C. Ajaran Tasawuf
1.
Maqamat
Secara harfiah
maqamat berasal dari bahasa arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal
mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang
harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Seperti telah
disinggung diatas, bahwa maqam-maqam yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri
atas;
a)
Taubat
Taubat berasal dari bahasa arab taba, yatubu,
taubatan yang artinya kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan
sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang
sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang
disertai dengan melakukan amal kebajikan.
b)
Cemas dan harap
(khauf dan raja’)
Menurut Hasan Al-Bashri, yang dimaksud dengan
cemas atau takut adalah suatu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah
dan sering lalai kepada Allah. Karena sering menyadari kekurang sempurnaannya
dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa takut dan khawatir apabila Allah
akan murka kepadanya.
c)
Zuhud
Secara harfiah zuhud berarti tidak ingin kepada
sesuatu yang bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud
artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.
d)
Faqr (fakir)
Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai
orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan kaum
sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita.
Tidak meminta rizki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban.
Tidak meminta sungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak
meminta tetapi tidak menolak.
e)
Sabar
Secara harfiah sabar berarti tabah hati.
Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang
bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan,
dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam
bidang ekonomi.
f)
Ridha (rela)
Secara harfiah ridha artinya rela, suka,
senang. Harun Nasution mengatakan bahwa ridha berarti tidak berusaha, tidak
menentang qada dan qadar Allah. Menerima qada dan qadar Allah dengan
senang hati.
g)
Muraqabah
Kata ini mempunyai arti yang mirip dengan
introspeksi atau self correction. Dengan kalimat yang lebih populer dapat
dikatakan bahwa muraqabah adalah siap dan siaga setiap saat untuk meneliti
keadaan diri sendiri.
2.
Hal
Menurut Harun Nasution, hal merupakan keadaan
mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya.
Hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-Khauf), rendah hati
(al-Tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-Uns),
gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-Syukr).
Hal berlainan dengan maqam, bukan diperoleh
atas usaha manusia, tetapi sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan. Dan
berlainan pula dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi, datang
dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.
3.
Mahabbah
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba,
yahibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam,
atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf
ini lebih lanjut dikemukakan oleh al-Qusyairi, yaitu bahwa mahabbah adalah
keadaan jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya kemutlakan Allah
SWT oleh hambanya, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta
kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.
4. Ma’rifah
Dari segi bahasa ma’rifah berasal dari kata
arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman.
Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan
dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan
mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Selanjutnya Harun Nasution mengatakan
bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk pengetahuan dengan
hati sanubari.
5.
Fana dan Baqa
Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya
wujud sesuatu. Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya
kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim
digunakan pada diri.menurut pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat
kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan. Dan dapat pula berarti hilangnya
sifat-sifat yang tercela.
Sebagai akibat dari fana adalah baqa. Secara
harfiah baqa berarti kekal. Sedangkan baqa yang dimaksud oleh para sufi adalah
kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.
6.
Ittihad
Ittihad merupakan suatu tingkatan di mana yang
mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Dalam situasi Ittihad yang
demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan.
7.
Hulul
Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil
tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan
sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Jika sifat ketuhanan yang ada dalam
diri manusia bersatu dengan sifat kemanusiaan yang ada dalam diri Tuhan maka
terjadilah Hulul.
8.
Wahdat
al-Wujud
Wahdat al-Wujud adalah ungkapan yang terdiri
dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau
kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud
berarti kesatuan wujud. Menurut pandangan para sufi, wahdat al-wujud adalah
paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan
wujud.
9.
Insan Kamil
Insan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu
dari dua kata; insan dan kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan
kamil berarti yang sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang
sempurna.
10. Tariqat
Dari segi bahasa tariqat berasal dari bahasa
arab thariqat yang artinya jalan, keadaan, aliran dalam garis sesuatu. Lebih
khusus lagi tariqat di kalangan sufi berarti sistem dalam rangka mengadakan
latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya
dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak zikir dengan penuh ikhlas
semata-mata untuk mengharapkan bertemu dan bersatu secara ruhiah dengan Tuhan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan
shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain
mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffahyangberarti serambi
Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin
dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin
namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan
berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata
sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum
sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
munculnya tasawuf bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam itu
sendiri, sebagai suatu agama dengan prilaku hidup sederhana yang dicontohkan
Rasulullah SAW sebagai Sumbernya.
Ajaran tasawuf yaitu: Maqamat yaitu
meliputi: (Taubat, Cemas dan harap (khauf dan raja’), zuhud, faqr (fakir), sabar, ridha (rela) dan muraqabah.), Hal,
Mahabbah, fana dan baqa, ittihad, wahdat al-wujud, insan kamil dan tariqat.
B. Saran
Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dalam islam.
Sebagai umat islam kita harus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan
mensucikan hati sanubari dengan cara, yaitu tobat, zuhud, sabar, shaleh,
tawakal, kerelaan (ridho), cinta dan ma’rifat.
DAFTAR PUSTAKA
Ris’an Rusli, Tasawuf dan Tarekat, Jakarta :
RajawaliPers, 2013.
Ahmad Bangun
Nasution,dan Riyani Siregar, Akhlak
Tawasuf, Jakarta : RajawaliPers, 2013.
Samsul Munir
Amir. Ilmu Tasawuf. Surabaya :Remaja Rosdakarya, 2015.
http://kumpulanmakalah-kedokteran-psikologi.blogspot.in/2014/01/makalah-tasawuf.html
Prof. Dr. Amin
Syukur, MA. Intelektualisme Tasawuf, cetakan pertama, (Semarang, pustaka
pelajar, Januari 2002), hal.17-33
Dr. Mustafa
Zahri, Kunci Memahami Islam Tasawuf, PT. Bwa Ilmu, hal.152
Ust Labib MZ
dan Drs. Moh. Al-‘Aziz,thashawwufdanjalan hidup para wali,cetakan pertama,
(Surabaya, Bintang Usaha Jaya, 2000), hal.40-54
Prof. Dr.
Rosihon Anwar, M.Ag, akhlak tasawuf, cetakan kesepuluh, (Bandung, Pustaka
Setia, 2010), hal.165-194
Tidak ada komentar:
Posting Komentar