Selasa, 02 Maret 2021

Makalah Sejarah Ilmu Thasawuf

 

MAKALAH

‘’Ajaran Tasawuf dan Pengertian Sejarah Munculnya’’

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Akhlak dan Tasawuf  




Disusun oleh: kelompok 5

 


 

 

SEMESTER I-A

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)AN NADWAH KUALA TUNGKAL  2020/2021

 





KATA PENGANTAR

 

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

Kuala Tungkal 30 Oktober 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

             A.    Latar Belakang...............................................................................................4

             B.     Masalah atau Topik Pembahasan..................................................................5

             C.     Tujuan Penulisan Makalah............................................................................5

BAB II PEMBAHASAN

             A.    Pengertian Tasawuf........................................................................................6

             B.     Sejarah Munculnya Tasawuf.........................................................................7

             C.     Ajaran Tasawuf.............................................................................................8

BAB III PENUTUP

            A.    Kesimpulan....................................................................................................11

            B.     Saran............................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Manusia sebagaimana disebutkan Ibnu Khaldun memiliki pancaindra (anggota tubuh), akal pikiran dan hati sanubari. Ketiga potensi ini harus bersih, sehat, berdaya guna dan dapat bekerja sama secara harmonis. Tasawuf berpotensi dalam penyucian hati sanubari manusia, sebagaimana tasawuf adalah salah satu cabang ilmu islam yang mennekankan  dimensi atau aspek spiritual dalam islam. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya.

Orang yang ahli tasawuf disebut dengan seorang sufi. Seorang sufi menekankan aspek rohaninya dari pada aspek jasmaninya.Seorang sufi selalu berusaha untuk dekat dengan Tuhan. Dan untuk mencapai itu, terdapat tingkatannya yaitu tobat, zuhud, sabar, shaleh, tawakal, kerelaan (ridho), cinta dan ma’rifat. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang unik. Dia tercipta dari badan jasmaniah dan aspek rohaniah. Badan jasmaniah terdiri dari materi dan kecenderungan bersifat material pula. Dari sisi ini, biologis manusia sangat bergantung pada hal-hal material. Ia membutuhkan pangan, sandang dan papan (kebutuhan dharuriyyah atau primer), dan bahkan kebutuhan lain yang sifatnya tahsiniyyah atau sekunder. Sedangkan jiwa manusia berasal dari roh yang suci dengan kecenderungan bersifat  ruhaniyyah pula. Dari sisi ini, manusia sangat bergantung pada hal-hal yang bersifat spiritual, dia membutuhkan ketenangan, ketenteraman, ketergantungan pada Zat Yang Maha Mutlak, bahkan kebersatuan dengan-Nya. Keunikan manusia ini, juga terletak pada kemapuannnya dalam merenungkan dan memikirkan tentang alam semesta (cosmos), Tuhan (theos), dan bahkan dia dapat mempersoalkan dirinya sendiri, siapa, bagaimana, untuk apa, dari mana, mau kemana ujungnya kehidupan itu.

Dari salah satu aspek persoalan perenungan dan pemikiran manusia tentang dirinya adalah apa dan bagaimana hakikat manusia itu? Apakah hakikat manusia itu terletak pada kehidupannya yang jasmaniah? Atau pada kehidupan rohaniah? Atau dalam keterkaitan keduanya? Oleh karena itu tasawuf hadir dan berkembang menjadi wacana kajian akademik yang senantiasa aktual secara kontekstual dalam setiap kajian pemikiran islam. Tasawuf juga secara universal menempati posisi substansi dalam kehidupan manusia

 

 

B.     Rumusan masalah

1.      Apa pengertian tasawuf ?

2.      Bagaimana sejarah munculnya tasawuf ?

3.      Apa saja ajaran tasawuf ?

C.    Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini sebagai berikut ;

1.      Untuk mengetahui pengertian tasawuf

2.      Untuk mengetahui sejarah munculnya tasawuf

3.      Untuk mengetahui ajaran tasawuf.

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Tasawuf

Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffahyangberarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.

Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauanaspeklahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkanpada aspek bathiniyah.

Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.

Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.

Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.

 

B. Sejarah Munculnya Tasawuf

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan tasawuf sesungguhnya sama saja dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri. Mengingat keberadaan tasawuf adalah sama dengan keberadaan agama Islam. Pada hakikatnya agama islam itu ajarannya hampir bisa dikaitkan bercorak tasawuf.

Kehidupan tasawuf mulai tumbuh dan berkembang sejak zaman nabi Muhammad SAW., sebab misi kerasulannya meliputi ajaran-ajaran yang berkaitan dengan keyakinan/keimanan (aqidah), ibadah dan akhlak. Bahkan sebelum beliau diangkat secara resmi oleh Allah SWT. Sebagai rasul-Nya, kehidupan beliau sudah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku kehidupan shufi, yang bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari beliau yang sangat sederhana, disamping menghabiskan waktunya dalam beribadat dan bertaqarrub pada tuhannya.

Akhlak sebagai bagian ajaran Rasulullah SAW., ditanamkan kepada seluruh sahabat beliau melalui pengajaran dan pembinaan yang disertai  dengan contoh dari beliau. Pengajaran dan pembinaan dilalukan melalui internalisasi nilai-nilai dan ajaran al-Qur’an serta al-Hadits.

Dari ayat-ayat al-Qur’an itulah, Rasulullah SAW. mengajarkan tasawuf kepada umatnya. Di penjelasan ayat-ayat al-Qur’an itulah beliau menuntun akhlak para sahabatnya baik dengan perkataan maupun perbuatan beliau. Penanaman akhlak pada masa Rasulullah SAW. meliputi berbagai dimensi kehidupan yang lebih memfokuskan kepada keteguhan dan kebasaran umat islam untuk menghadapi tekanan dan himpitan oleh kaum kafir Quraisy.Pada saat Rasulullah SAW. berada di Madinah, pembinaan akhlak lebih ditekankan pada aspek kemasyarakatan.

Pembinaan masa ini lebih mengarah pada pola interaksi umat islam kepada sesama muslim dan kepada kaum non muslim (Yahudi dan Nasrani).Ajaran tasawuf pada masa ini meliputi kasih sayang, saling menghargai dan menghormati, menolong, berbuat baik kepada orang tua, solidaritas antar sesama dan lain-lain. Ajaran-ajaran inilah yang dilandasi atas cinta kasih antar mereka sehingga tercipta persaudaraan sesama umat Islam.

 

 

 

 

C. Ajaran Tasawuf

1.       Maqamat

Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.

Seperti telah disinggung diatas, bahwa maqam-maqam yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri atas;

a)      Taubat

Taubat berasal dari bahasa arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan melakukan amal kebajikan.

b)      Cemas dan harap (khauf dan raja’)

Menurut Hasan Al-Bashri, yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepada Allah. Karena sering menyadari kekurang sempurnaannya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa takut dan khawatir apabila Allah akan murka kepadanya.

c)      Zuhud

Secara harfiah zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.

d)      Faqr (fakir)

Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan kaum sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rizki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Tidak meminta sungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta tetapi tidak menolak.

e)      Sabar

Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.

 

f)       Ridha (rela)

Secara harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Harun Nasution mengatakan bahwa ridha berarti tidak berusaha, tidak menentang qada dan qadar Allah. Menerima qada dan qadar Allah dengan  senang hati.

g)      Muraqabah

Kata ini mempunyai arti yang mirip dengan introspeksi atau self correction. Dengan kalimat yang lebih populer dapat dikatakan bahwa muraqabah adalah siap dan siaga setiap saat untuk meneliti keadaan diri sendiri.

2.    Hal

Menurut Harun Nasution, hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-Khauf), rendah hati (al-Tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas), rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih (al-Syukr).

Hal berlainan dengan maqam, bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi, datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.

3.      Mahabbah

Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yahibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan oleh al-Qusyairi, yaitu bahwa mahabbah adalah keadaan jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya kemutlakan Allah SWT oleh hambanya, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.

4.      Ma’rifah

Dari segi bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman. Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk pengetahuan dengan hati sanubari.

5.      Fana dan Baqa

Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri.menurut pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan. Dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.

Sebagai akibat dari fana adalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal. Sedangkan baqa yang dimaksud oleh para sufi adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.

6.      Ittihad

Ittihad merupakan suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Dalam situasi Ittihad yang demikian itu, seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan.

7.      Hulul

Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Jika sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia bersatu dengan sifat kemanusiaan yang ada dalam diri Tuhan maka terjadilah Hulul.

8.       Wahdat al-Wujud

Wahdat al-Wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Menurut pandangan para sufi, wahdat al-wujud adalah paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.

9.      Insan Kamil

Insan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata; insan dan kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna.

10.    Tariqat

Dari segi bahasa tariqat berasal dari bahasa arab thariqat yang artinya jalan, keadaan, aliran dalam garis sesuatu. Lebih khusus lagi tariqat di kalangan sufi berarti sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak zikir dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu dan bersatu secara ruhiah dengan Tuhan.

 

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffahyangberarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.

munculnya tasawuf bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri, sebagai suatu agama dengan prilaku hidup sederhana yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai Sumbernya.

Ajaran tasawuf yaitu: Maqamat yaitu meliputi: (Taubat,  Cemas dan harap (khauf dan raja’), zuhud, faqr (fakir), sabar, ridha (rela) dan muraqabah.), Hal, Mahabbah, fana dan baqa, ittihad, wahdat al-wujud, insan kamil dan tariqat.

B.     Saran

Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu islam yang menekankan  dimensi atau aspek spiritual dalam islam. Sebagai umat islam kita harus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mensucikan hati sanubari dengan cara, yaitu tobat, zuhud, sabar, shaleh, tawakal, kerelaan (ridho), cinta dan ma’rifat.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ris’an Rusli, Tasawuf dan Tarekat, Jakarta : RajawaliPers, 2013.

Ahmad Bangun Nasution,dan Riyani Siregar, Akhlak Tawasuf, Jakarta : RajawaliPers, 2013.

Samsul Munir Amir. Ilmu Tasawuf. Surabaya :Remaja Rosdakarya, 2015.

http://kumpulanmakalah-kedokteran-psikologi.blogspot.in/2014/01/makalah-tasawuf.html

Prof. Dr. Amin Syukur, MA. Intelektualisme Tasawuf, cetakan pertama, (Semarang, pustaka pelajar, Januari 2002), hal.17-33

Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Islam Tasawuf, PT. Bwa Ilmu, hal.152

Ust Labib MZ dan Drs. Moh. Al-‘Aziz,thashawwufdanjalan hidup para wali,cetakan pertama, (Surabaya, Bintang Usaha Jaya, 2000), hal.40-54

Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, akhlak tasawuf, cetakan kesepuluh, (Bandung, Pustaka Setia,  2010), hal.165-194

 

 

 

 

 

 

                                         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA PANCASILA DALAM ARUS SEJARAH BANGSA INDONESIA

            MAKALAH Pancasila dalam Arus Sejarah Bangsa Indonesia Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah      Pendidika...